Perpustakaan

Universitas Veteran Bangun Nusantara

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of UVBN - BENTUK SAPAAN DALAM BAHASA PEDALANGAN GAYA SURAKARTA
Penanda Bagikan

Text

UVBN - BENTUK SAPAAN DALAM BAHASA PEDALANGAN GAYA SURAKARTA

DEWI KUSUMANINGSIH - Nama Orang;

Monograf ini merupakan hasil penelitian saya yang sudah lama tidak dimanfaatkan untuk menyebarkan ilmu dan informasi. Bentuk sapaan adalah salah satu ilmu dari linguistik khusus dari kajian sosiolinguistik yang sering dipakai dalam komunikasi sosial antarpenutur bahasa. Salah satu objek penggunaan bentuk sapaan adalah penggunaannya dalam bahasa Pedalangan. Pedalangan merupakan pertujukkan drama tradisional yang sarat dengan penggunaan bentuk sapaan. Dialog yang dilakukan dalang seolah memeragakan komunikasi dalam kehidupan nyata. Gaya Surakarta dalam pedalangan dianggap bentuk yang pakem.

Temuan penggunaan bentuk-bentuk sapaan dalam bahasa Pedalangan ini didominasi oleh bentuk sapaan perkerabatan. Perkerabatan yang diambil adalah perkerabatan dua kelompok keluarga yairu keluarga Pandawa dan Kurawa. Bentuk sapaan perkerabatan dipakai dan diperluas dengan penambahan nama, jabatan/gelar, atau domisili O2. Bentuk ini paling sering dipergunakan dengan keinginan untuk spesifikasi dan menghormati O2. Ada bentuk sapaan khusus yang hanya ditemui dalam bahasa pedalangan yang dipergunakan oleh tokoh Werkudara kepada hampir semua yang disapa, bentuk sapaan tersebut disusun terbalik misalnya Durna guruku, Jamprong adhiku, Kresna kakangku. Bentuk sapaan ini menjadi ciri khas tokoh Werkudoro. Ditemukan pula bentuk sapaan yang juga ekskusif dalam bahasa pedalangan yaitu kulup yang kolokial dengan thole / le ‘nak’ untuk anak laki-laki dalam bahasa Jawa. Bentuk sapaan thole / le mempunyai kontras yaitu gendhuk/ nduk ‘nak’ untuk anak perempuan. Hubungan antara O1 dan O2 dilihat dari bentuk sapaan yang muncul bersifat vertikal, horisontal, formal, dan nonformal. Fungsi pemakaian bentuk-bentuk sapaan tersebut adalah untuk menunjukkan kedudukan antartokoh di dalam berinteraksi dan sebagai penanda kohesi sosial menurut tatanan masyarakat Jawa. Semoga objek penelitian bentuk sapaan dalam bahasa pedalangan gaya Surakarta ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


Ketersediaan
#
Perpustakaan Pusat (400) 499.2107 KUS b
KUS001B5009
Tersedia
Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
499.2107 KUS b
Penerbit
YOGYAKARTA : BILDUNG., 2021
Deskripsi Fisik
15 x 23 cm; 139
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-623-6658-67-3
Klasifikasi
400
Tipe Isi
Teks
Tipe Media
Book
Tipe Pembawa
Book
Edisi
-
Subjek
SOSIAL BUDAYA
SOSIAL HUMANIORA
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Perpustakaan
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?